Sabtu, 08 Juni 2013

Bakpaw

Hikmah Dibalik Dua Buah Bakpaw

Hari ini rabu, jadwal aku mengajar TPA, rutin di masjid Nurul Fajri. Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa. Pembukaan oleh direktur TPA dengan membaca doa al faatihah dan doa belajar, hafalan, materi, mengaji oleh ustadz/ah TPA dan penutupan membaca doa untuk kedua orang tua dan doa selamat dunia-akhirat. Santri baru akan berdiri setelah dipanggil satu-persatu namanya oleh ustadz, lalu mereka menyalami ustadz/ah nya pamit pulang, tak lupa mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum ustadzah…” Dina mengucapkan salam sebelum pulang kerumah padaku sambil menciumi tangan, “wa’alaikumsalam dek dina” sambil tersenyum aku membalas salam santiku. Diikuti dengan satri-santri yang lain. Mereka selalu melakukannya dengan terburu-buru. Aku selalu gembira bila melihat tingka kanak-kanak mereka itu. Aku teringan kenangan waktu kecil dulu waktu masih menjadi satri TPA juga.
”Anak-anak ini selalu memberi kegembiraan, walaupun kadang sebel juga melihat tingkah mereka bila tak mau mendengar apa kata ustadz/ah bila ada materi yang harus dicatat.” Aku berbicara pada teman ngajarku di TPA Rena namanya.
“iya…”  jawab Rena.
“Mereka anak-anak yang baik, semoga bisa bermanfaat ilmu yang sudah kami ajarkan ya bu…” 
“Huum…”  sahut Rena lagi.
“ Pulang yuk… udah mau azan magrib.” Rena pun mengajakku pulang. “Ayuukk….
Kami pun pulang bareng, menuruni tangga di TPA. Kelas TPA kami ngajar berada di lantai 2 masjid. Kami melewati papan pengumuman masjid itu…. Berhenti sejenak, mata kami tiba-tiba tertuju pada selembar pamflet yang tertempel rapi ukuran kertas A3 bersanding dengan beberapa pamflet lain yang sudah ekspayer. Berisi informasi pengajian di masjid kampus UGM oleh ustadz dari timur tengah.
“Del ayok ikut kajiannya, seru lho…ada ustadz dari timur tengah…”
“iya, kapan…kapan…acaranya…?”
“Jumat siang jam 13.00WIB.”
“oke…” kami pun sepakat akan mengikuti acara pengajian itu, jumat siang besok di masjid kampus UGM.
Waktu yang dinanti pun tiba, siang ini kami sudah bersaip-siap untuk berangkat, tiba-tiba hujan mengguyur kota Gudeg.
“Ren, hujan…”
“iya, gimana kita tetap berangkat atau menunggu huja agak reda baru berangkat?” Rena memberikan pilihan.
“Ummm…bolehlah… kita tunggu hujannya reda aja dulu, baru kita berangkat. Lagian acaranya sampai malam kan?”
“huum…”
Setengah jam berlalu, hujan sudah mulai mengurangi debit airnya yang dari tadi ditumpahkan kebumi. Aku pun bertanya…” gimana, kita jalan sekarang atau nunggu sampai benar-benar redah.  Hujan masih gerimis lembut diluar. 
“Tak apalah, kita brangkat sekarang aja…" Rena pun menyetujui.
Dengan mantap aku berkata OKE, kita berangkat sekarang. Tak lupa Rena melagukan yel-yelnya jika hendak berangkat kesuatu tempat 
 “Berang-berang makan coklat, ayo berangkat”
Kami sampai di masjid kampus, bergegas langsung ke tempat akhwat. Sepertinya ceramahnya baru saja dimulai, mungkin sekitar seperempat perjalanan ustadz timur tengah itu berceramah. Kami mengambil tempat di depan.
“Kok jamaahnya akhwatnya sedikit ya…? Reni berbisisk padaku
“Iya, sedikit ya? Umm..mungkin karena hujan jadi banyak yang nggak bisa hadir.”
Kami pun menyimak apa yang disampaikan ustadz itu. Beliau menyampaikan ceramahnya dalam bahasa Arab lalu ada penterjemah. Aku yang tidak mengerti bahasa Arab mencoba menyimak tapi sia-sia. Akhirnya terjemahannya saja yang bisa kupahami.
Subhanallah ustadz membawakan materi tentang pentingnya mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak shalat sunah lail dan shalat Dhuha. Bahwa seorang muslim yang selalu mendekatkan diri kepada Allah akan diberi kemudahan jalan hidupnya. Kami begitu khusuk.
“Pindah kesana yuk Del, kita sandaran.” Rena mengajaku ke tepi untuk bersandar, sepertinya Reni agak lelah duduk bersila.
“Kamu capek ya duduk kayak gini? “
“Iya…ayuk kita cari sandaran sambil mendengarkan ceramah biar lebih enjoy.”
“huum…,ayo…” Kita pun berpindah tempat. Selang beberapa menit, azan shalat asar berkumandang. Kami pun bersegera mengambil wudhu. Shalat berjamaah pun dimulai. Dalam shalat aku terbatuk-batuk, tenggorokanku gatal seperti digelitk.  Usai shalat aku langsung meminta izin kepada Reni untuk ke bawah sebentar untuk mencari air minum. Gerimis diluar tak kuhiraukan, tenggorokan yang gatal serasa mengganggu. Ingin rasanya segera menemukan air.
“Ren, aku turun bentar ya… mau cari minum tenggorokanku gatal, sepertinya aku harus segera menemukan air putih kalau tidak aku akan batuk-batuk dalam masjid.”
“Aku ikut deh, mau cari minum juga…”
“kalau gitu ayo kita turun yuk…”
Dibawah kami bertemu dengan anak kecil yang lagi nangis, ditinggal ibunya.
“Kenapa mbak adiknya?” 

"Nangis pengen Ikut Umminya mbak…"
” Umminya kemana?
“Umminya kekamar kecil mbak…”
Kami pun mencoba untuk menenangkan si adik kecil. Rena tanpa pikir panjang langsung menggendong si adik kecil, dan dengan berlari kecil dibawa ke tempat ibunya, dikamar kecil. Aku menyusul dari belakang, sambil menoleh kebelakang untuk melihat mbaknya memastikan dia pun mengikuti kami, berlari menerobos gerimis.
Sambil menenangkan adik kecil yang terus saja menangis sambil berlari, Reni pun menoleh kebelakang. Tersenyum karena mendapatiku membuntuti langkahnya, juga mbak itu. Kami tidak sempat kenalan jadi tak tahu siapa nama mbaknya.
Si ibu kami temukan yang langsung kami tahu setelah si mbaknya bersuara agak keras memberitahukan pada kami kalau ibu adik kecil itu berjilbab ungu. Akhirnya si adik kecil kami serahkan pada ibunya dan disambut hangat oleh si ibu.
“Makasih yah mbak” Iya buk sama-sama”
Adik kecil seketika langsung terdiam.
“Haah,, legah akhirnya dia nggak nagis lagi…” sambil tersenyum Reni berucap.
“Iya, bener ternyata adik itu tak mau ditinggal ibunya ya? Pasti dulu Reni kayak gitu juga kan?”  tertawa aku menggoda Reni. Reni membalas dengan tawa.
“Ke kamar kecil dulu yuk…rasanya pengen pipis…”
Dari kamar kecil kami mencari tempat menjual minuman barangkali ada disekitar masjid. “Eh, ada bapak yang jualan air minum disitu tuh…” Aku menunjuk bapak yang jualan bakpaw.
“Nggak ah, dia jualan bakpaw.”
“Tapi bapaknya juga jualan aqua gelas, tuh lihat disamping bapaknya ada dus aqua gelas…”
Oh iya juga ya..Kalau gitu ayukk kita ke bapaknya.”
Kami pun bergegas.  Setelah dekat dengan bapak penjual bakpaw..., ternyata benar disamping bapaknya ada sedus aqua gelas. Dengan sedikit ragu-ragu kutanyakan segera “Pak aqua disebelah bapak dijual ya..? Kami mau beli pak..”
Sambil tersenyum bapaknya menjawab “iya mbak, mbak mau beli berapa?
“Dua aja pak… “Bakpawnya sklaian mbak…”
“Bakpawnya berapaan pak? Reni menanyakan harga bakpaw kepada bapaknya.
“Rp 4000 mbak. Ada rasa coklat sama kacang ijo.” Jelas bapaknya.
“Del beli bakpaw yuk, makannya sambil denger ceramah diserambi masjid aja duduknya, kan kedengeran toh ceramahnya dari serambi masjid?”
“Iya, beli dua pak, dua aqua sama dua bakpaw jadinya sepuluh ribu kan pak.”
“Iya mbak…”
Aku menyerahkan satu lembar uang sepuluh ribu. Bapaknya langsung membungkuskan bakpaw diplastik.
Setelah dibungkus bakpaw itu langsung dikasi sama anak kecil yang tiba-tiba berdiri didepan kami. Langsung saja bakpaw itu diambil oleh anak kecil itu, dan berlari ke tempat abinya.
“Pak bakpaw buat kami mana?” Rena bertanya pada bapak itu. Tapi bapak itu tak menghiraukan dan langsung menutup kembali bakpawnya takut dingin apalagi cuacanya lagi dingin.
Aku langsung memperhatikan kemana si anak kecil itu pergi. Ternyata dia ketempat abinya. Aku mendengar abinya bertanya kepada anaknya, darimana dia mendapatkan bakpaw itu. Aku langsung mengerti dan langsung mengajak Rena pergi.
“Ren ayo…kita pergi aja.. Nggak apa-apa bakpaw nya buat adik kecil itu aja.. tapi sepertinya Rena tidak mendengar suaraku. Aku langsung pergi dan bermaksud memberikan bakpaw itu pada adik kecil tadi. Melihat aku yang sudah pergi Rena langsung menegejarku dan ikut meninggalkan bapak penjual bakpaw itu dan bapak anak kecil itu yang sudah berada dipenjual bakpaw setelah tahu anaknya mengambil bakpaw dan belum dibayar.
Kami pun kembali mengikuti pengajian. Ceramah ustadz timur tengah belum selesai. Kami tak lagi sampai di lantai 2 tempat akhwat, hanya duduk ditangga sambil minum air yang kami beli barusan. Saling pandang dan tiba-tiba tertawa, sudah jadi tradisi kami kalau ada kejadian yang baru saja kami alami entah lucu atau menegangkan. Kami bercakap-cakap sebentar tentang kejadian bakpaw barusan. Tapi setelah itu kami tenggelam dalam ceramah.
Waktu berlalu ternyata ceramah sudah dipenghujung waktu, kami pun bersegera untuk pulang kerumah.
“Ren sebelum pulang aku mau ke kamar kecil dulu. Mau pipis lagi nih…mungkin karena cuacanya dingin kali ya…? “
“Oke lah.. kita ke kamar kecil dulu.”
“Ren, kita jangan lewat ditempat bakpawnya nanti ketemu bapaknya.”
“Nggak apa-apa toh Del…sepertinya bapaknya sudah pulang kok…”
“Aku nggak enak sama bapaknya” Lho emang kenapa..? “Nggak sih..hehe..”
“Ayuuk..kita lewat ditempat tadi aja..”
Tanpa menjawab aku mengikuti langkah Rena. Tiba-tiba bapak tadi memanggil kami
“mbak..mbak…tunggu bentar mbak.. Ini bakpaw yang tadi..punya mbak…”
“Nggak usah pak…Nggak apa-apa kok…tadi buat adik kecil itu aja…”
“Jangan mbak…tadi bapaknya udah bayak kok mbak…”
“Nggak apa-apa pak…” kami pun berkeras sambil melangkah.
Aku mempercepat langkah kakiku, Rena begitu berusaha mengimbangi langkahku. Bapaknya terus memanggil. Karena kami tak menoleh sedikitpun dan tersu mempercepat langkah dan alhasil bapaknya mengejar kami dan mendapati kami didepan tempat wudhu wanita. Kami pun kaget, dan langsung bilang “mbak diambil bakpawnya aku nggak bisa tidur mbak kalau bakpaw ini nggak diambil…”
Aku yang sudah didalam tempat wudhu nggak sempat mendengar kata-kata bapak ketika berbicara begitu. Dengan memaksa pula bakpaw itu ditaruh diatas kotak infak yang ada didepan pintu oleh bapaknya. Setelah pipis dan wudhu aku keluar dan mendapati Rena terpaku dengan bakpaw diatas kotak infak.
“Bapaknya tetap memberikan bakpawnya ya..? Aku bertanya pada Rena karena melihat bungkusan plastik hitam itu ada diatas kotak infak.
“Bapaknya nggak bisa tidur kalau dia nggak ketemu sama kita untuk memberikan bakpaw ini…” dengan lemas Rena menjelaskan. Aku pun merasa bersalah karena menghindari bapak tadi. Padahal aku bermaksud untuk memberikan bakpaw itu pada anak kecil tadi. Tapi salahku tidak bilang dengan jelas dulu sama bapaknya langsung main kebur aja.
“Ren kita minta maaf yuk sama bapaknya…” “iya Del kita harus minta maaf, kita sudah membuat bapaknya resah dan tidak bisa tidur, kalau saja kita tidak mengambil bakpaw ini.”
“iya, aku benar-benar merasa bersalah dan nggak enak sama bapaknya”
Akhirnya kami pergi ketempat bapaknya dan langsung meminta maaf, menjelaskan maksud kami. Bapaknya meminta maaf dan menjelaskan ketidak tahuannya. Bapak penjual bakpaw mengira kami datang bersama dengan anak kecil itu, jadi bungkusan bakpawnya langsung di kasi anaka kecil itu. Akhirnya kami sama-sama tersenyum. Lalu kami pamit.
Kami langsung menikmati bakpaw bapaknya, sambil mencari hikmah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Hikmahnya, Berbuat baik itu ternyata tak selamanya harus dilakukan secara diam-diam. Jika kasusnya seperti tadi, berbuat baik harus disertai dengan komunikasi untuk menyatakan maksud kita, bukan untuk riya tapi agar tidak ada salah paham yang berujung pada keresahan dan meresahkan orang lain.  







Tidak ada komentar:

Posting Komentar