Hikmah Dibalik Dua Buah Bakpaw
Hari ini rabu,
jadwal aku mengajar TPA, rutin di masjid Nurul Fajri. Kegiatan belajar mengajar
berjalan seperti biasa. Pembukaan oleh direktur TPA dengan membaca doa al
faatihah dan doa belajar, hafalan, materi, mengaji oleh ustadz/ah TPA dan
penutupan membaca doa untuk kedua orang tua dan doa selamat dunia-akhirat. Santri
baru akan berdiri setelah dipanggil satu-persatu namanya oleh ustadz, lalu
mereka menyalami ustadz/ah nya pamit pulang, tak lupa mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum
ustadzah…” Dina mengucapkan salam sebelum pulang kerumah padaku sambil menciumi
tangan, “wa’alaikumsalam dek dina” sambil tersenyum aku membalas salam santiku.
Diikuti dengan satri-santri yang lain. Mereka selalu melakukannya dengan terburu-buru.
Aku selalu gembira bila melihat tingka kanak-kanak mereka itu. Aku teringan
kenangan waktu kecil dulu waktu masih menjadi satri TPA juga.
”Anak-anak ini
selalu memberi kegembiraan, walaupun kadang sebel juga melihat tingkah mereka
bila tak mau mendengar apa kata ustadz/ah bila ada materi yang harus dicatat.”
Aku berbicara pada teman ngajarku di TPA Rena namanya.
“iya…” jawab Rena.
“Mereka
anak-anak yang baik, semoga bisa bermanfaat ilmu yang sudah kami ajarkan ya
bu…”
“Huum…” sahut Rena lagi.
“ Pulang yuk…
udah mau azan magrib.” Rena pun mengajakku pulang. “Ayuukk….
Kami pun pulang
bareng, menuruni tangga di TPA. Kelas TPA kami ngajar berada di lantai 2 masjid.
Kami melewati papan pengumuman masjid itu…. Berhenti sejenak, mata kami tiba-tiba
tertuju pada selembar pamflet yang tertempel rapi ukuran kertas A3 bersanding
dengan beberapa pamflet lain yang sudah ekspayer. Berisi informasi pengajian di
masjid kampus UGM oleh ustadz dari timur tengah.
“Del ayok ikut
kajiannya, seru lho…ada ustadz dari timur tengah…”
“iya,
kapan…kapan…acaranya…?”
“Jumat siang
jam 13.00WIB.”
“oke…” kami pun
sepakat akan mengikuti acara pengajian itu, jumat siang besok di masjid kampus
UGM.
Waktu yang
dinanti pun tiba, siang ini kami sudah bersaip-siap untuk berangkat, tiba-tiba
hujan mengguyur kota Gudeg.
“Ren, hujan…”
“iya, gimana
kita tetap berangkat atau menunggu huja agak reda baru berangkat?” Rena
memberikan pilihan.
“Ummm…bolehlah…
kita tunggu hujannya reda aja dulu, baru kita berangkat. Lagian acaranya sampai
malam kan?”
“huum…”
Setengah jam
berlalu, hujan sudah mulai mengurangi debit airnya yang dari tadi ditumpahkan
kebumi. Aku pun bertanya…” gimana, kita jalan sekarang atau nunggu sampai
benar-benar redah. Hujan masih gerimis
lembut diluar.
“Tak apalah, kita brangkat sekarang aja…" Rena pun menyetujui.
Dengan mantap aku berkata OKE, kita berangkat sekarang. Tak lupa Rena melagukan yel-yelnya jika hendak berangkat kesuatu tempat
“Berang-berang makan coklat, ayo berangkat”
“Tak apalah, kita brangkat sekarang aja…" Rena pun menyetujui.
Dengan mantap aku berkata OKE, kita berangkat sekarang. Tak lupa Rena melagukan yel-yelnya jika hendak berangkat kesuatu tempat
“Berang-berang makan coklat, ayo berangkat”
Kami sampai di
masjid kampus, bergegas langsung ke tempat akhwat. Sepertinya ceramahnya baru
saja dimulai, mungkin sekitar seperempat perjalanan ustadz timur tengah itu
berceramah. Kami mengambil tempat di depan.
“Kok jamaahnya
akhwatnya sedikit ya…? Reni berbisisk padaku
“Iya, sedikit
ya? Umm..mungkin karena hujan jadi banyak yang nggak bisa hadir.”
Kami pun
menyimak apa yang disampaikan ustadz itu. Beliau menyampaikan ceramahnya dalam
bahasa Arab lalu ada penterjemah. Aku yang tidak mengerti bahasa Arab mencoba
menyimak tapi sia-sia. Akhirnya terjemahannya saja yang bisa kupahami.
Subhanallah
ustadz membawakan materi tentang pentingnya mendekatkan diri kepada Allah
dengan memperbanyak shalat sunah lail dan shalat Dhuha. Bahwa seorang muslim
yang selalu mendekatkan diri kepada Allah akan diberi kemudahan jalan hidupnya.
Kami begitu khusuk.
“Pindah kesana
yuk Del, kita sandaran.” Rena mengajaku ke tepi untuk bersandar, sepertinya
Reni agak lelah duduk bersila.
“Kamu capek ya
duduk kayak gini? “
“Iya…ayuk kita
cari sandaran sambil mendengarkan ceramah biar lebih enjoy.”
“huum…,ayo…”
Kita pun berpindah tempat. Selang beberapa menit, azan shalat asar
berkumandang. Kami pun bersegera mengambil wudhu. Shalat berjamaah pun dimulai.
Dalam shalat aku terbatuk-batuk, tenggorokanku gatal seperti digelitk. Usai shalat aku langsung meminta izin kepada
Reni untuk ke bawah sebentar untuk mencari air minum. Gerimis diluar tak kuhiraukan,
tenggorokan yang gatal serasa mengganggu. Ingin rasanya segera menemukan air.
“Ren, aku turun
bentar ya… mau cari minum tenggorokanku gatal, sepertinya aku harus segera menemukan air putih kalau tidak aku akan batuk-batuk dalam masjid.”
“Aku ikut deh, mau cari minum juga…”
“kalau gitu ayo
kita turun yuk…”
Dibawah kami
bertemu dengan anak kecil yang lagi nangis, ditinggal ibunya.
“Kenapa mbak adiknya?”
"Nangis pengen Ikut Umminya mbak…"
” Umminya kemana?
“Kenapa mbak adiknya?”
"Nangis pengen Ikut Umminya mbak…"
” Umminya kemana?
“Umminya
kekamar kecil mbak…”
Kami pun
mencoba untuk menenangkan si adik kecil. Rena tanpa pikir panjang langsung
menggendong si adik kecil, dan dengan berlari kecil dibawa ke tempat ibunya,
dikamar kecil. Aku menyusul dari belakang, sambil menoleh kebelakang untuk
melihat mbaknya memastikan dia pun mengikuti kami, berlari menerobos gerimis.
Si ibu kami
temukan yang langsung kami tahu setelah si mbaknya bersuara agak keras
memberitahukan pada kami kalau ibu adik kecil itu berjilbab ungu. Akhirnya si
adik kecil kami serahkan pada ibunya dan disambut hangat oleh si ibu.
“Makasih yah
mbak” Iya buk sama-sama”
Adik kecil
seketika langsung terdiam.
“Haah,, legah
akhirnya dia nggak nagis lagi…” sambil tersenyum Reni berucap.
“Iya, bener
ternyata adik itu tak mau ditinggal ibunya ya? Pasti dulu Reni kayak gitu juga
kan?” tertawa aku menggoda Reni. Reni membalas dengan tawa.
“Ke kamar kecil
dulu yuk…rasanya pengen pipis…”
Dari kamar
kecil kami mencari tempat menjual minuman barangkali ada disekitar masjid.
“Eh, ada bapak yang jualan air minum disitu tuh…” Aku menunjuk bapak yang
jualan bakpaw.
“Nggak ah, dia
jualan bakpaw.”
“Tapi bapaknya
juga jualan aqua gelas, tuh lihat disamping bapaknya ada dus aqua gelas…”
Oh iya juga
ya..Kalau gitu ayukk kita ke bapaknya.”
Kami pun bergegas. Setelah dekat dengan bapak penjual bakpaw..., ternyata benar
disamping bapaknya ada sedus aqua gelas. Dengan sedikit ragu-ragu kutanyakan
segera “Pak aqua disebelah bapak dijual ya..? Kami mau beli pak..”
Sambil
tersenyum bapaknya menjawab “iya mbak, mbak mau beli berapa?
“Dua aja pak…
“Bakpawnya sklaian mbak…”
“Bakpawnya
berapaan pak? Reni menanyakan harga bakpaw kepada bapaknya.
“Rp 4000 mbak.
Ada rasa coklat sama kacang ijo.” Jelas bapaknya.
“Del beli
bakpaw yuk, makannya sambil denger ceramah diserambi masjid aja duduknya, kan
kedengeran toh ceramahnya dari serambi masjid?”
“Iya, beli dua
pak, dua aqua sama dua bakpaw jadinya sepuluh ribu kan pak.”
“Iya mbak…”
Aku menyerahkan satu lembar uang sepuluh ribu. Bapaknya langsung membungkuskan
bakpaw diplastik.
Setelah dibungkus
bakpaw itu langsung dikasi sama anak kecil yang tiba-tiba berdiri didepan kami.
Langsung saja bakpaw itu diambil oleh anak kecil itu, dan berlari ke tempat
abinya.
“Pak bakpaw
buat kami mana?” Rena bertanya pada bapak itu. Tapi bapak itu tak menghiraukan
dan langsung menutup kembali bakpawnya takut dingin apalagi cuacanya lagi
dingin.
Aku langsung
memperhatikan kemana si anak kecil itu pergi. Ternyata dia ketempat abinya. Aku mendengar abinya bertanya kepada anaknya, darimana dia mendapatkan bakpaw
itu. Aku langsung mengerti dan langsung mengajak Rena pergi.
“Ren ayo…kita
pergi aja.. Nggak apa-apa bakpaw nya buat adik kecil itu aja.. tapi sepertinya
Rena tidak mendengar suaraku. Aku langsung pergi dan bermaksud memberikan
bakpaw itu pada adik kecil tadi. Melihat aku yang sudah pergi Rena langsung
menegejarku dan ikut meninggalkan bapak penjual bakpaw itu dan bapak anak kecil
itu yang sudah berada dipenjual bakpaw setelah tahu anaknya mengambil bakpaw
dan belum dibayar.
Kami pun
kembali mengikuti pengajian. Ceramah ustadz timur tengah belum selesai. Kami
tak lagi sampai di lantai 2 tempat akhwat, hanya duduk ditangga sambil minum
air yang kami beli barusan. Saling pandang dan tiba-tiba tertawa, sudah jadi
tradisi kami kalau ada kejadian yang baru saja kami alami entah lucu atau
menegangkan. Kami bercakap-cakap sebentar tentang kejadian bakpaw barusan.
Tapi setelah itu kami tenggelam dalam ceramah.
Waktu berlalu
ternyata ceramah sudah dipenghujung waktu, kami pun bersegera untuk pulang
kerumah.
“Ren sebelum
pulang aku mau ke kamar kecil dulu. Mau pipis lagi nih…mungkin karena cuacanya
dingin kali ya…? “
“Oke lah.. kita
ke kamar kecil dulu.”
“Ren, kita
jangan lewat ditempat bakpawnya nanti ketemu bapaknya.”
“Nggak apa-apa
toh Del…sepertinya bapaknya sudah pulang kok…”
“Aku nggak enak
sama bapaknya” Lho emang kenapa..? “Nggak sih..hehe..”
“Ayuuk..kita
lewat ditempat tadi aja..”
Tanpa menjawab
aku mengikuti langkah Rena. Tiba-tiba bapak tadi memanggil kami
“mbak..mbak…tunggu
bentar mbak.. Ini bakpaw yang tadi..punya mbak…”
“Nggak usah
pak…Nggak apa-apa kok…tadi buat adik kecil itu aja…”
“Jangan
mbak…tadi bapaknya udah bayak kok mbak…”
“Nggak apa-apa
pak…” kami pun berkeras sambil melangkah.
Aku mempercepat
langkah kakiku, Rena begitu berusaha mengimbangi langkahku. Bapaknya terus
memanggil. Karena kami tak menoleh sedikitpun dan tersu mempercepat langkah dan
alhasil bapaknya mengejar kami dan mendapati kami didepan tempat wudhu wanita.
Kami pun kaget, dan langsung bilang “mbak diambil bakpawnya aku nggak bisa
tidur mbak kalau bakpaw ini nggak diambil…”
Aku yang sudah
didalam tempat wudhu nggak sempat mendengar kata-kata bapak ketika berbicara
begitu. Dengan memaksa pula bakpaw itu ditaruh diatas kotak infak yang ada
didepan pintu oleh bapaknya. Setelah pipis dan wudhu aku keluar dan mendapati
Rena terpaku dengan bakpaw diatas kotak infak.
“Bapaknya tetap
memberikan bakpawnya ya..? Aku bertanya pada Rena karena melihat bungkusan
plastik hitam itu ada diatas kotak infak.
“Bapaknya nggak
bisa tidur kalau dia nggak ketemu sama kita untuk memberikan bakpaw ini…”
dengan lemas Rena menjelaskan. Aku pun merasa bersalah karena menghindari bapak
tadi. Padahal aku bermaksud untuk memberikan bakpaw itu pada anak kecil tadi. Tapi
salahku tidak bilang dengan jelas dulu sama bapaknya langsung main kebur aja.
“Ren kita minta
maaf yuk sama bapaknya…” “iya Del kita harus minta maaf, kita sudah membuat
bapaknya resah dan tidak bisa tidur, kalau saja kita tidak mengambil bakpaw
ini.”
“iya, aku
benar-benar merasa bersalah dan nggak enak sama bapaknya”
Akhirnya kami pergi
ketempat bapaknya dan langsung meminta maaf, menjelaskan maksud kami.
Bapaknya meminta maaf dan menjelaskan ketidak tahuannya. Bapak penjual bakpaw mengira kami datang bersama dengan anak kecil itu, jadi bungkusan bakpawnya langsung di kasi anaka kecil itu. Akhirnya kami sama-sama tersenyum. Lalu kami pamit.
Kami langsung
menikmati bakpaw bapaknya, sambil mencari hikmah dan berjanji tidak akan
mengulangi lagi. Hikmahnya, Berbuat baik itu ternyata tak selamanya harus
dilakukan secara diam-diam. Jika kasusnya seperti tadi, berbuat baik harus
disertai dengan komunikasi untuk menyatakan maksud kita, bukan untuk riya tapi
agar tidak ada salah paham yang berujung pada keresahan dan meresahkan orang
lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar