Perjumpaan
Kedua
Bus melaju, membawa kami ketempat tujuan, pantai Drini. Perjalanan
kami tempuh selama 2 jam untuk dapat mencapai lokasi. Selama 2 jam aku menikmati pemandangan yang
tidak pernah sekali pun membuat mataku bosan untuk terus memandang keluar
jendela bus. Seakan selalu ada yang berbeda, walaupun pemandangannya tidak
asing bagiku, hutan, rumah penduduk, sawah, tanaman penduduk yang ditanam rapi.
Semua terasa segar dipandang mata. Sesekali aku menoleh pada adikku disamping
yang sudah tertidur. Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya selama perjalanan dia
tidak menggangguku dengan semua kalimat perintahnya.
Tiba-tiba bus 1 mendahului bus yang aku tumpangi. Persis disebela
jendelaku, aku kembali melihat wajah itu, tapi dia tidak melihatnya. Aku baru
tau kalau dia menumpangi bus 1 yang dari awal perjalanan berada dibelakang bus
2.
Aku kembali teringat kejadian beberapa waktu sebelum kami berangkat.
Pandangan yang bertemu, untuk beberapa detik kami saling berpandangan, dengan cepat aku segera perpaling, rasa malu
menguasai hatiku karena kedapatan sedang memandangnya.
Dengan lirih aku menyesali perbuatanku tadi “Huh, kenapa juga aku
kedapatan tadi pagi, kan malu banget.” Bila saja adikku tidak tertidur dia
pasti akan melihat wajahku bersemu merah karena malu. Aahh, kutepis semua
bayangan kejadian tadi. Kufokuskan pikiranku pada pemandangan diluar jendela
bus.
Akhirnya 2 jam berlalu, kami pun sampai di tempat tujuan, pantai
Drini. Bus pun mencari tempat agar kami bisa segera berpindah. Kami pun turun dengan
segera setelah bus parkir dengan rapi di tempat parkir yang telah disediakan.
Adikku terbangun setelah kusentuh pundaknya dan ku goyangkan pelan.
Dia mengucek matanya.
“udah sampai, ayo bangun, jangan lupa rapikan jilbabmu.”
“umm..”
“Hey, itu kan cowok yang tadi. Ngapai ya dia berdiri di pintu bus
kayak gitu, seperti sedang menunggu seseorang. Aku menengok kebelakang,
barangkali masih ada orang yang paling terakhir lagi turun dari bus. Tidak ada.
Sebelah kiri, kanan, juga tidak ada. Haah, aku baru sadar, jangan-jangan dia
menungguku? Untuk apa? ” Aku berbicara dengan diriku sendiri. Seketika aku
langsung panik. Hatiku berdetak kencang. Demi menyembunyikan ketakutanku, aku
jalan menunduk menuruni tangga bus yang hanya dua anak tangga, pura-pura
menyibukan diri dengan perasaan penasaran yang tinggi dengan pemandangan
pantai, sehingga tidak harus melihat siapa orang yang sedang berdiri di samping
pintu bus. Tapi..hatiku ternyata tak mampu berpaling. Aku hanya sekilas
melihatnya. Dia tersenyaum. Darahku semakin cepat mengalir. Merah semu wajahku
jika ada orang yang melihatnya saat itu. Dia hendak menyapaku, tapi aku
buru-buru pergi dengan hanya membalas senyumnya seadanya, setidaknya itu
menurut fersiku. Tapi menurut orang lain itu mungkin balasan senyum yang dingin
tak bersahabat. Itu lah pertemuan kedua
ku dengannya cowok hitam manis, dan jangkung itu. Pertemuan yang menimbulkan
tanda tanya bagiku. Kenapa dia menungguku di pintu bus? Untuk apa? Kalau untuk
kenalan, kenapa dia yang terlihat elegant gitu mau aja berkenalan dengan ku
gadis sederahana, penampilan yang ala kadarnya?
Dengan sedikit berlari aku mengikuti langkah mamah dan adikku. Adikku?
Mana anak itu? Ahh, pasti dia sudah ke pantai lebih dulu. Huh, dasar, tadi aja
aku dipaksa nemenin dia. Eh..udah di pantai kayak gini, lupa deh kalau ada
kakak yang sudah rela berkorban, putus sejenak denga tuga-tugas kampus yang
numpuk demi dia seorang.
Mamah menyuruhku untuk mencari adikku.
“kamu jangan jauh dari adikmu”
Tanpa menjawab aku langsung pergi menjauhi mamah. Mamah lagi sibuk
dengan teman-teman darmawanitanya. Cerita. Membahas tentang program mereka
kedepan, dan tentunya tak lupa kebiasaan membangga dengan kelebihan
masing-masing, baik itu suami, anak-anak, dan barang-barang koleksi baru dalam
rumah. “Haah, ibu-ibu, gitu deh kalau udah kumpul. Adanya hanya gosip.”
Aku kembali teringat cowok di depan pintu bus tadi.
“Apa mungkin dia penasaran denganku ya? Masa sih, untuk apa?” Aku
kembali berdialog denga hatiku. Ah, sudahlah.
Untuk pertamakalinya aku melihat pantai ini. Indah sekali. Pasirnya
yang putih sebenarnya sama dengan pantai-pantai yang ada di Gunung Kidul, tapi
menurut aku pantai ini memiliki nilai estetik yang berbeda dengan pantai yang
ada disekitar. Ada sebagian daratan yang menjurus ke laut dengan batu karang
yang berdiri tegak, sehingga terlihat seperti gundukan raksasa yang ditumbuhi
pepohonan. Di atas batu karang dibuat sebuah gapura. Untuk bisa mencapai puncak
gundukan kita melewati genangan air laut yang jika air laut sedang pasang,
genangan air laut akan membasahi daratan pasir sekitar atau tepatnya seperempat
lingkarang gundukan batu karang dengan ketinggian air sebetis. Ada tangga yang
tidak terlalu tinggi. Melewati tangga itu kita akan langsung mendaki gundukan
batu karang sampai di puncak. Akan terlihat tanah yang tidak terlalu luas,
hanya bisa untuk sekitar sepuluh orang, bila ingin leluasa menikmati pemandangan
dari puncak batu karang. Dari gundukan batu karang ini kita bisa melihat lautan
lepas dengan ombak yang tinggi dan warnah laut yang biru. Indah. Subhanallah.
Fabiayyialairobbikumatukadziban (maka nikmat
Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?).
Dalam hati, aku memuji kebesaran Allah swt.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar