Rabu, 05 Juni 2013

Hilang.. part II

Perjumpaan Kedua

Bus melaju, membawa kami ketempat tujuan, pantai Drini. Perjalanan kami tempuh selama 2 jam untuk dapat mencapai lokasi.  Selama 2 jam aku menikmati pemandangan yang tidak pernah sekali pun membuat mataku bosan untuk terus memandang keluar jendela bus. Seakan selalu ada yang berbeda, walaupun pemandangannya tidak asing bagiku, hutan, rumah penduduk, sawah, tanaman penduduk yang ditanam rapi. Semua terasa segar dipandang mata. Sesekali aku menoleh pada adikku disamping yang sudah tertidur. Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya selama perjalanan dia tidak menggangguku dengan semua kalimat perintahnya.
Tiba-tiba bus 1 mendahului bus yang aku tumpangi. Persis disebela jendelaku, aku kembali melihat wajah itu, tapi dia tidak melihatnya. Aku baru tau kalau dia menumpangi bus 1 yang dari awal perjalanan berada dibelakang bus 2.
Aku kembali teringat kejadian beberapa waktu sebelum kami berangkat. Pandangan yang bertemu, untuk beberapa detik kami saling berpandangan,  dengan cepat aku segera perpaling, rasa malu menguasai hatiku karena kedapatan sedang memandangnya.
Dengan lirih aku menyesali perbuatanku tadi “Huh, kenapa juga aku kedapatan tadi pagi, kan malu banget.” Bila saja adikku tidak tertidur dia pasti akan melihat wajahku bersemu merah karena malu. Aahh, kutepis semua bayangan kejadian tadi. Kufokuskan pikiranku pada pemandangan diluar jendela bus.
Akhirnya 2 jam berlalu, kami pun sampai di tempat tujuan, pantai Drini. Bus pun mencari tempat agar kami bisa segera berpindah. Kami pun turun dengan segera setelah bus parkir dengan rapi di tempat parkir yang telah disediakan.  
Adikku terbangun setelah kusentuh pundaknya dan ku goyangkan pelan. Dia mengucek matanya.
“udah sampai, ayo bangun, jangan lupa rapikan jilbabmu.”
“umm..”
Aku pun bergegas turun, tapi ternyata barisan belakang lebih dulu berbondong-bondong keluar, jadi aku tertahan dan adikku pun belum selesai merapika jilbabny yang berantakan karena tertidur selama perjalanan. Aku turun paling belakang. Aku pun jalan tanpa beban dan sudah melupakan kelompok kecil tadi. Pandanganku tiba-tiba tertuju keluar bus disamping pintu bus. Disitu berdiri seorang cowok, tinggi, hitam manis.
“Hey, itu kan cowok yang tadi. Ngapai ya dia berdiri di pintu bus kayak gitu, seperti sedang menunggu seseorang. Aku menengok kebelakang, barangkali masih ada orang yang paling terakhir lagi turun dari bus. Tidak ada. Sebelah kiri, kanan, juga tidak ada. Haah, aku baru sadar, jangan-jangan dia menungguku? Untuk apa? ” Aku berbicara dengan diriku sendiri. Seketika aku langsung panik. Hatiku berdetak kencang. Demi menyembunyikan ketakutanku, aku jalan menunduk menuruni tangga bus yang hanya dua anak tangga, pura-pura menyibukan diri dengan perasaan penasaran yang tinggi dengan pemandangan pantai, sehingga tidak harus melihat siapa orang yang sedang berdiri di samping pintu bus. Tapi..hatiku ternyata tak mampu berpaling. Aku hanya sekilas melihatnya. Dia tersenyaum. Darahku semakin cepat mengalir. Merah semu wajahku jika ada orang yang melihatnya saat itu. Dia hendak menyapaku, tapi aku buru-buru pergi dengan hanya membalas senyumnya seadanya, setidaknya itu menurut fersiku. Tapi menurut orang lain itu mungkin balasan senyum yang dingin tak bersahabat.  Itu lah pertemuan kedua ku dengannya cowok hitam manis, dan jangkung itu. Pertemuan yang menimbulkan tanda tanya bagiku. Kenapa dia menungguku di pintu bus? Untuk apa? Kalau untuk kenalan, kenapa dia yang terlihat elegant gitu mau aja berkenalan dengan ku gadis sederahana, penampilan yang ala kadarnya?

Dengan sedikit berlari aku mengikuti langkah mamah dan adikku. Adikku? Mana anak itu? Ahh, pasti dia sudah ke pantai lebih dulu. Huh, dasar, tadi aja aku dipaksa nemenin dia. Eh..udah di pantai kayak gini, lupa deh kalau ada kakak yang sudah rela berkorban, putus sejenak denga tuga-tugas kampus yang numpuk demi dia seorang.
Mamah menyuruhku untuk mencari adikku.
“kamu jangan jauh dari adikmu”
Tanpa menjawab aku langsung pergi menjauhi mamah. Mamah lagi sibuk dengan teman-teman darmawanitanya. Cerita. Membahas tentang program mereka kedepan, dan tentunya tak lupa kebiasaan membangga dengan kelebihan masing-masing, baik itu suami, anak-anak, dan barang-barang koleksi baru dalam rumah. “Haah, ibu-ibu, gitu deh kalau udah kumpul. Adanya hanya gosip.”   
Aku kembali teringat cowok di depan pintu bus tadi.
“Apa mungkin dia penasaran denganku ya? Masa sih, untuk apa?” Aku kembali berdialog denga hatiku. Ah, sudahlah.
Untuk pertamakalinya aku melihat pantai ini. Indah sekali. Pasirnya yang putih sebenarnya sama dengan pantai-pantai yang ada di Gunung Kidul, tapi menurut aku pantai ini memiliki nilai estetik yang berbeda dengan pantai yang ada disekitar. Ada sebagian daratan yang menjurus ke laut dengan batu karang yang berdiri tegak, sehingga terlihat seperti gundukan raksasa yang ditumbuhi pepohonan. Di atas batu karang dibuat sebuah gapura. Untuk bisa mencapai puncak gundukan kita melewati genangan air laut yang jika air laut sedang pasang, genangan air laut akan membasahi daratan pasir sekitar atau tepatnya seperempat lingkarang gundukan batu karang dengan ketinggian air sebetis. Ada tangga yang tidak terlalu tinggi. Melewati tangga itu kita akan langsung mendaki gundukan batu karang sampai di puncak. Akan terlihat tanah yang tidak terlalu luas, hanya bisa untuk sekitar sepuluh orang, bila ingin leluasa menikmati pemandangan dari puncak batu karang. Dari gundukan batu karang ini kita bisa melihat lautan lepas dengan ombak yang tinggi dan warnah laut yang biru. Indah. Subhanallah.
Fabiayyialairobbikumatukadziban (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?).

Dalam hati, aku memuji kebesaran Allah swt.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar