Perjumpaan
pertama
Bus
bergerak perlahan kedepan, memberi ruang untuk bus berikutnya. Aku dan adikku
berada dalam bus barisan kedua. Tepatnya ada tiga bus yang parkir rapi di depan
kantor tempat bapak aku bekerja. Hari ini akan ada acara rutinitas kantor
setiap akhir tahun. Acara piknik bersama keluarga.
“Kak
ayo ikut..temani aku. Masa aku sendirian di sana” adikku mengajak aku untuk
ikut serta dalam acara piknik kantor.
“oh…aduuhh..tugasku belum selesai dek.” Lusa,
tugas ini akan dikumpul.. Lagian masih banyak yang harus aku ketik.. kamu sama
mamah sama bapak saja kesana ya..” aku bingung, apakah harus memenuhi
permintaan adikku atau tidak. Tugasku masih banyak yang belum aku selesaikan. .
“Ahh..tidak
mau kak..ayo temani aku.”
Aku
manyun. Dalam hati aku mengutuki adikku.. Kenapa juga dia harus memaksaku
pergi. Dia tidak lihat apa kalau aku lagi sibuk mengetik tugas-tugasku..huufff…
Adikku ini memang keras kepala. Dia tidak mau menyerah juga. Masih tetap
memaksakan kehendaknya. Mengajakku ikut serta dalam piknik itu. Kenapa juga
harus ada piknik dihari sesibuk ini. Mungkin, sibuknya hari ini hanya berlaku
bagi diriku saja.
Dengan
senyum penuh kemenangan adikku meninggalkanku, menuju kamar mandi. Ahh..selagi
dia mandi aku masih bisa mengetik beberapa lembar lagi pkirku.
“Kak..ayo
siap-siap, nanti kita telat.”
“Iya..” huh, masih dengar juga dia, padahal dia kan
di dalam kamar mandi.. Ahh..anak itu benar-benar pemaksa. Dengan langkah gontai
akhirnya aku menuju lemari pakaian untuk memilih pakaian yang akan aku pakai di
acara piknik reseh itu. Aku menyebut acara piknik itu sebagai acara reseh. Bagaimana
tidak, karena acara ini aku harus menunda mengerjakan tugasku yang akan aku
kumpul lusa besok. Gimana tidak cemas coba, asisten dosen yang akan mengumpulkan
tugas kami ini sangat killer. Aku
mulai memilih pakaian, sambil menunggu adikku selesai bermunajah di kamar
mandi, aku memanfaatkan waktu dengan memilih pakaian yang akan aku kenakan hari
ini. Baju kaos biru tua, celana hitam dan jilbab hitam. Warna baju yang aku
pilih untuk ke acara piknik itu. Gelap sih, tapi peduli amat.
Krrrr….
Adikku keluar dari kamar mandi.
“Udah
selesai munajahnya? Tak menjawap pertanyaanku, malah menyuruhku untuk segera
mandi.
“Kak
ayo mandi..”
“Iya..,
kenapa sih dari tadi merintah aja kerjaannya. Aku udah siap-siap nih. Tinggal
mandi aja. Kamu tuh, lama banget sih mandinya.”
“Kakak
kesel ya.. karena aku paksa buat nemenin aku”
“Udah
tau, nanya..”
Adikku
malah cengingisan denger jawabanku.
Kami
pun selesai dandan. Bapak sama mamah sudah menunggu.
“Gimana
udah selesai dandanya? Bapak bertanya pada kami berdua.
“Iya
pak..” Kami serempak menjawab sambil tersenyum.
“ayo
berangkat skarang aja, nanti kita telat, malu sama teman-teman kantor bapak”
Sampai
di kantor aku dan adikku langsung menuju bus. Ternyata peserta piknik masih
belum semua datang. Bus saja masih kosong.
“Lihat
tuh, bus aja masih kosong. Kamu udah bikin aku buru-buru tadi. Sampai lupa bawa
buku biologiku..”
“Lagian
buat apa sih kak bawa buku pelajaran segala di tempat kayak gini? Kita kan mau
piknik kak, bukan sekolah. Udah deh kak, lupakan sejenak tugas-tugas kakak itu.
Ini waktunya kita seneng-seneng. OKE..!”
“Ya
udah, kita cari tempat duduk di dalam bus aja.”
Aku
mengambil tempat yang dekat dengan jendela. Tempat kesukaanku bila berada dalam
bus atau angkot, karena aku bisa dengan leluasa melihat pemandangan disepanjang
jala. Adikku mengambil tempat persis disebelahku. Kami pun duduk bersebelahan,
membisu. Tiba-tiba bus bergerak, aku pikir kami akan segera berangkat.
Ahh..pupus.. ternyata hanya bergerak 1 sampai 2 meter saja. Bus 3 pun masuk mengambil barisan tepat
dibekang bus kami. Aku pun begumam. Berbicara lirih seolah hanya untuk diriku
sendiri.
“Umm..
jadi mau memberikan tempat untuk bus 3 ya..”
Dalam
bus, aku dan adikku masih saja membisu, tengelam dengan pikiran masing-masing.
Aku berkata dalam hati, tumben dia nggak menerorku seperti tadi pagi. Aku pun
membuka percakapan.
“Ada
apa, kok diem aja? Nggak neror lagi?”
“Ngapain,
kan kakak udah disini.”
“Huh,
kalau ada maunya aja.”
Kami
pun kembali membisu. Pandangannya kembali tertuju keluar jendela kanan kami. Tepatnya
jendela dijejeran kursi sebelah. Aku penasaran apa sih yang sedang dipandangi
adikku. Aku mencoba menoleh kesamping kananku.
Ada
sebuah kelompok kecil disitu. Beberapa anak cowok. Membentuk lingkaran kecil. Mereka
bercerita riang, terlihat akrab. Sepertinya mereka sudah lama saling kenal. Siapa
mereka? Aku berdialog dengan diriku. Mungkin mereka itu anak-anak para bos
dikantor bapak. Ahh..sudahlah lebih baik tidak memperdulikan mereka. Toh mereka
dari kalangan orang-orang kaya, buat apa aku perduli.
Sifat
antiku kembali kambuh. Aku sangat anti dengan anak-anak orang kaya, karena
menurutku mereka semua itu sombong dan pasti tidak mau berteman dengan kami
yang dari kalangan rendah.
Aku
pun tidak memperdulikan mereka. Tapi hatiku..tergelitik dengan wajah hitam
manis, jangkung, berpenampilan rapi sederhana tapi terkesan elegant. Aku sempat
sekilas memperhatikan dia, orang pertama yang aku lihat dari kelompok
cowok-cowok itu. Aku kembali memperhatikan dia. Upss..tapi siapa sangka..dia
melihatku lagi mengintip.. Dan pada saat itu kami pun bersitatap beberapa
detik.. Itulah pertama kali kami bertemu dengan hanya sebuah tatapan sekejap. Pertemuan
pertamaku dengannya. Tak ada kata, tak ada bicara, hanya sebuah tatapan yang
berarti bagi hatiku tepatnya. Mungkin tidak baginya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar