Selasa, 04 Juni 2013

Hilang



Perjumpaan pertama

Bus bergerak perlahan kedepan, memberi ruang untuk bus berikutnya. Aku dan adikku berada dalam bus barisan kedua. Tepatnya ada tiga bus yang parkir rapi di depan kantor tempat bapak aku bekerja. Hari ini akan ada acara rutinitas kantor setiap akhir tahun. Acara piknik bersama keluarga.
“Kak ayo ikut..temani aku. Masa aku sendirian di sana” adikku mengajak aku untuk ikut serta dalam acara piknik kantor.
 “oh…aduuhh..tugasku belum selesai dek.” Lusa, tugas ini akan dikumpul.. Lagian masih banyak yang harus aku ketik.. kamu sama mamah sama bapak saja kesana ya..” aku bingung, apakah harus memenuhi permintaan adikku atau tidak. Tugasku masih banyak yang belum aku selesaikan. .
“Ahh..tidak mau kak..ayo temani aku.”
Aku manyun. Dalam hati aku mengutuki adikku.. Kenapa juga dia harus memaksaku pergi. Dia tidak lihat apa kalau aku lagi sibuk mengetik tugas-tugasku..huufff… Adikku ini memang keras kepala. Dia tidak mau menyerah juga. Masih tetap memaksakan kehendaknya. Mengajakku ikut serta dalam piknik itu. Kenapa juga harus ada piknik dihari sesibuk ini. Mungkin, sibuknya hari ini hanya berlaku bagi diriku saja.
Dengan senyum penuh kemenangan adikku meninggalkanku, menuju kamar mandi. Ahh..selagi dia mandi aku masih bisa mengetik beberapa lembar lagi pkirku.
“Kak..ayo siap-siap, nanti kita telat.”
“Iya..”  huh, masih dengar juga dia, padahal dia kan di dalam kamar mandi.. Ahh..anak itu benar-benar pemaksa. Dengan langkah gontai akhirnya aku menuju lemari pakaian untuk memilih pakaian yang akan aku pakai di acara piknik reseh itu. Aku menyebut acara piknik itu sebagai acara reseh. Bagaimana tidak, karena acara ini aku harus menunda mengerjakan tugasku yang akan aku kumpul lusa besok. Gimana tidak cemas coba, asisten dosen yang akan mengumpulkan tugas kami ini sangat killer.  Aku mulai memilih pakaian, sambil menunggu adikku selesai bermunajah di kamar mandi, aku memanfaatkan waktu dengan memilih pakaian yang akan aku kenakan hari ini. Baju kaos biru tua, celana hitam dan jilbab hitam. Warna baju yang aku pilih untuk ke acara piknik itu. Gelap sih, tapi peduli amat.
Krrrr…. Adikku keluar dari kamar mandi.
“Udah selesai munajahnya? Tak menjawap pertanyaanku, malah menyuruhku untuk segera mandi.
“Kak ayo mandi..”
“Iya.., kenapa sih dari tadi merintah aja kerjaannya. Aku udah siap-siap nih. Tinggal mandi aja. Kamu tuh, lama banget sih mandinya.”
“Kakak kesel ya.. karena aku paksa buat nemenin aku”
“Udah tau, nanya..”
Adikku malah cengingisan denger jawabanku.
Kami pun selesai dandan. Bapak sama mamah sudah menunggu.
“Gimana udah selesai dandanya? Bapak bertanya pada kami berdua.
“Iya pak..” Kami serempak menjawab sambil tersenyum.
“ayo berangkat skarang aja, nanti kita telat, malu sama teman-teman kantor bapak”
Sampai di kantor aku dan adikku langsung menuju bus. Ternyata peserta piknik masih belum semua datang. Bus saja masih kosong.
“Lihat tuh, bus aja masih kosong. Kamu udah bikin aku buru-buru tadi. Sampai lupa bawa buku biologiku..”
“Lagian buat apa sih kak bawa buku pelajaran segala di tempat kayak gini? Kita kan mau piknik kak, bukan sekolah. Udah deh kak, lupakan sejenak tugas-tugas kakak itu. Ini waktunya kita seneng-seneng. OKE..!”
“Ya udah, kita cari tempat duduk di dalam bus aja.”
Aku mengambil tempat yang dekat dengan jendela. Tempat kesukaanku bila berada dalam bus atau angkot, karena aku bisa dengan leluasa melihat pemandangan disepanjang jala. Adikku mengambil tempat persis disebelahku. Kami pun duduk bersebelahan, membisu. Tiba-tiba bus bergerak, aku pikir kami akan segera berangkat. Ahh..pupus.. ternyata hanya bergerak 1 sampai 2 meter saja.  Bus 3 pun masuk mengambil barisan tepat dibekang bus kami. Aku pun begumam. Berbicara lirih seolah hanya untuk diriku sendiri.
“Umm.. jadi mau memberikan tempat untuk bus 3 ya..”
Tepatnya ada 3 bus yang akan membawa kami ke lokasi piknik kali ini. Aku dan keluarga berada dalam satu bus yaitu bus 2.
Dalam bus, aku dan adikku masih saja membisu, tengelam dengan pikiran masing-masing. Aku berkata dalam hati, tumben dia nggak menerorku seperti tadi pagi. Aku pun membuka percakapan.
“Ada apa, kok diem aja? Nggak neror lagi?”
“Ngapain, kan kakak udah disini.”
“Huh, kalau ada maunya aja.”
Kami pun kembali membisu. Pandangannya kembali tertuju keluar jendela kanan kami. Tepatnya jendela dijejeran kursi sebelah. Aku penasaran apa sih yang sedang dipandangi adikku. Aku mencoba menoleh kesamping kananku.
Ada sebuah kelompok kecil disitu. Beberapa anak cowok. Membentuk lingkaran kecil. Mereka bercerita riang, terlihat akrab. Sepertinya mereka sudah lama saling kenal. Siapa mereka? Aku berdialog dengan diriku. Mungkin mereka itu anak-anak para bos dikantor bapak. Ahh..sudahlah lebih baik tidak memperdulikan mereka. Toh mereka dari kalangan orang-orang kaya, buat apa aku perduli.
Sifat antiku kembali kambuh. Aku sangat anti dengan anak-anak orang kaya, karena menurutku mereka semua itu sombong dan pasti tidak mau berteman dengan kami yang dari kalangan rendah.
Aku pun tidak memperdulikan mereka. Tapi hatiku..tergelitik dengan wajah hitam manis, jangkung, berpenampilan rapi sederhana tapi terkesan elegant. Aku sempat sekilas memperhatikan dia, orang pertama yang aku lihat dari kelompok cowok-cowok itu. Aku kembali memperhatikan dia. Upss..tapi siapa sangka..dia melihatku lagi mengintip.. Dan pada saat itu kami pun bersitatap beberapa detik.. Itulah pertama kali kami bertemu dengan hanya sebuah tatapan sekejap. Pertemuan pertamaku dengannya. Tak ada kata, tak ada bicara, hanya sebuah tatapan yang berarti bagi hatiku tepatnya. Mungkin tidak baginya.

   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar